Jumat, 22 Juli 2016

Mahar Nikah Siri - Mintalah Yang Cukup Untuk Menjamin Kelancaran, Ketenangan dan Kelanjutan Ibadah Kepada Allah SWT.


Adalah sebuah fenomena menarik selama kami menjalankan profesi sebagai penghulu nikah siri bahwa masih banyak umat Islam belum mengetahui segala sesuatu tentang mahar penikahan atau lebih dikenal dengan kata Mas Kawin. Hal ini terungkap dari sering munculnya pertanyaan "Maharnya bagaimana pak Haji ?", "Biaya sudah termasuk mahar atau belum ?".

Pertanyaan tersebut sangat sederhana, akan tetapi bila diperhatikan, itu mengandung makna ketidak-tahuan orang tersebut akan mahar atau mas kawin itu sendiri.

Dalam Islam, salah satu syarat sah pernihakan adalah Mahar. Mahar itu sendiri adalah "sesuatu" yang "diminta" oleh wanita kepada calon suami dan diberikan dengan ikhlas oleh pria kepada wanita yang akan dinikahinya. Mahar bisa berupa uang, perhiasan, atau apapun yang harus diminta oleh wanita dan harus diserahkan oleh pria saat pernikahan.

Karena mahar merupakan permintaan wanita inilah, pada masa khalifah Sayidina Umar R.A. sempat terjadi para pria tidak menikah karena tidak sanggup membayar Mahar sehingga akhirnya Sayidina Umar R.A. menghimbau para wanita untuk tidak menuntut mahar alias mas kawin terlalu tinggi.
Mahar wajib diberikan, dia menjadi hak milik istri namun halal dipakai bersama jika istri ridho
Mahar atau mas kawin merupakan kewajiban pria dan menjadi syarat sah nya sebuah pernikahan dalam Islam sebagaimana diatur dalam Al-Quran.

Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepadamu sebagian dari mas kawin dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 4).

Dari ayat diatas jelas bahwa mahar wajib diberikan oleh calon suami kepada calon istri, apabila kemudian setelah menikah sang istri memberikan mas kawin atau mahar yang sudah diterimanya kepada suami untuk dipakai bersama misalnya sebagai modal usaha atau biaya hidup, maka adalah halal bagi suami untuk menerimanya.

Berapa besar nilai mahar nikah yang layak ?


Tidak ada ketentuan dalam Islam yang mengatur nilai atau kadar mas kawin atau mahar dalam pernikahan. Akan tetapi Allah berfirman :

Kawinilah mereka dengan seijin keluarga mereka dan berikanlah mas kawin mereka sesuai dengan kadar yang pantas, karena mereka adalah perempuan-perempuan yang memelihara diri” (Q.S. al-Nisa’: 25).

Maksud dari ayat tersebut sangat jelas bahwa mahar harus diminta dan diberikan dalam kadar (nilai) yang pantas. Biasanya, pada keluarga dengan silsilah bangsawan atau suku yang memiliki  adat istiadat tertentu mahar ditentukan setelah dirembukkan dengan pihak keluarga. Nah, dalam Islam, hal tersebut bisa dibenarkan sebagaimana disebutkan pada ayat diatas.

Akan tetapi dalam menentukan besarnya mahar, seorang wanita tidak boleh semena-mena sehingga menyulitkan calon suami untuk memenuhinya. Bahkan dalam salah satu hadits dikatakan  :

Wanita yang paling banyak berkahnya adalah yang paling ringan mas kawinnya” (HR. Hakim dan Baihaki).

Apakah mahar atau mas kawin boleh berupa sesuatu berbentuk non-fisik ?

Dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh imam Bukhori dan Muslim, Rosul mengatakan

Seandainya seseorang tidak memiliki sesuatu untuk membayar mahar, maka ia boleh membayar mahar dengan mengajarkan ayat Al-Qur’an yang dihafalnya" (Shohih Bukhari dan Muslim).

Dari hadits diatas terlihat bahwa dalam keadaan dimana calon suami tidak mampu memberikan mas kawin atau mahar dalam bentuk materi yang berwujud, maka calon istri bisa memintanya untuk mengajarkan ayat Al-Quran sebagai mas kawin baginya.

Pada dasarnya, pria pasti ingin memberikan mas kawin yang terbaik untuk wanita yang akan menjadi istrinya. Namun jika kondisi ekonomi tidak mendukung, wanita diperintahkan untuk tidak memaksakan diri terhadap keinginannya terhadap mas kawin ini. Bahkan jika pria tidak memiliki biaya untuk membayar mahar, maka maka ia boleh membayar mahar dengan mengajarkan ayat Al-Qur’an yang dihafalnya.

Kesimpulan tentang mahar atau mas kawin


Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa :

  1. Mahar merupakan salah satu syarat sah pernikahan
  2. Mahar harus diberikan oleh calon suami kepada calon istri
  3. Keluarga boleh dilibatkan dalam penentuan mahar
  4. Mahar bisa berupa materi berwujud (fisik) atau non-fisik
  5. Mahar yang sudah diberikan boleh digunakan bersama atau dipinjamkan kepada suami

Jadi apabila anda berniat untuk menikah siri, jangan tanyakan lagi kepada kami masalah Mahar. Siapkan mahar sesuai kemampuan dan keikhlasan.
 Semoga penikahan kalian menjadikan keluarga kalian menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah. Amiiiin. 

Khusus bagi wanita yang akan dinikah siri untuk menjadi istri kedua, ketiga atau keempat, kami menasehatkan untuk meminta mahar yang layak buat hidup anda. Jangan sekedar menyerahkan diri untuk dinikahi melainkan pertimbangkan juga faktor penunjang hidup anda untuk menjamin kelancaran, ketenangan dan kelangsungan ibadah anda kepada Allah SWT.

Sebaik-baik pernikahan bagi warga negera Indonesia adalah yang sah secara Syariat dan dicatat oleh Kantor Urusan Agama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar