Sabtu, 16 Januari 2016

Perbedaan Nikah Siri Syariah Dengan Nikah Mut'ah Atau Kawin Kontrak

Banyak kalangan terutama yang hanya mengerti sedikit tentang hukum pernikahan Islam menyamakan nikah siri dengan nikah mut'ah yang biasa dilakukan oleh sebagian penganut Syiah. Mengapa kami katakan sebagian, karena sejak lama tidak semua penganut syiah menghalalkan dan menjalankan prosesi nikah mut'ah. Sehingga kami anggap perlu untuk mempublikasikan tulisan ini untuk menjelaskan perbedaan nikah siri dengan nikah mut'ah dan bukan untuk menimbulkan perdebatan maupun polemik. Terlepas dari apapun pendapat yang dipegang, tetaplah menjaga Ukuwah Islamiyah untuk menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam.

nikah syar'i atau nikah sesuai Syariah Islam


Nikah Mut'ah


Menurut Mazhab Syiah, nikah mut'ah adalah ikatan perkawinan untuk masa waktu yang ditetapkan dan batal dengan sendirinya (cerai otomatis) apabila jangka waktu terlampaui. Pernikahan ini pernah dihalalkan oleh Rosululloh SAW ketika masa peperangan dengan kaum kafir dan kemudian dibatalkan (diharamkan) setelah Islam menguasai Mekah.

Mengapa sebagian kaum Syiah menganggap hukum pernikahan ini masih berlaku ? para ahli fiqh berpendapat bahwa hal ini disebabkan karena sebagian dari golongan Syiah hingga kini masih berperang, baik karena konflik dengan penguasa maupun dengan bangsa lain yang menduduki negeri mereka sehingga mereka masih menganggap bahwa nikah mut'ah atau kawin kontrak masih berlaku.

mahar nikah siri
 
Selain masalah adanya batasan waktu pernikahan, nikah mut'ah memiliki syarat dan rukun yang sama dengan pernikahan Syariah Islam yang diyakini oleh mayoritas penganut imam 4 mazhab yaitu : Ada wali, ada saksi, ada mahar (mas kawin) dan terjadi Ijab Qobul.

Dengan adanya jangka waktu pernikahan, Ijab Qobul nikah mut'ah memiliki tambahan kata "... selama ... (sesuai jangka waktunya atau kondisi waktu)". Contoh jika ingin menikah satu bulan ucapan Ijab Qobulnya misalnya "Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya .... dengan mas kawin .... selama satu bulan". Atau untuk jangka waktu relatif selama kondisi tertentu bisa jadi Ijab Qobul nya berbunyi "Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya .... dengan mas kawin .... selama kamu bertugas di kota ini".

Adanya batasan waktu inilah yang diharamkan karena pernikahan adalah ibadah yang tidak dibatasi oleh tempat dan waktu.

Nikah Siri / Nikah Syariah


Nikah siri adalah prosesi pernikahan antara seorang pria dengan wanita yang memenuhi syarat nikah siri atau Syariat Islam, yaitu : Ada wali, ada saksi dan ada mahar (mas kawin) dan terjadi Ijab Qobul tanpa ada batasan waktu, tidak bisa gugur (batal) dengan sendirinya jika melampaui batas waktu tertentu kecuali salah satunya mati atau suami mengucapkan talaq.

Yang menjadi permasalahan mengapa nikah siri menimbulkan polemik atau pertentangan adalah prosesi nikah siri tidak didaftarkan pada petugas pencatat pernikahan Kantor Urusan Agama (KUA).

Mengenai pendapat syah atau tidaknya pernikahan siri adalah menjadi keyakinan dari pendapat masing-masing. Yang pasti hukum syariah tidak menyatakan bahwa pernikahan dianggap syah jika tidak dicatat oleh negara karena pernikahan adalah sebuah ibadah yang tidak ada sangkut pautnya dengan negara. Jadi jika ditanyakan Syah atau Tidak Syah jawabannya adalah : Nikah Siri mungkin tidak syah menurut negara akan tetapi syah menurut agama karena terpenuhi unsur Syar'i nya.

Pernikahan sesuai Syariah Islam




Tetapi akan lebih baik jika pernikahan dilaporkan dan dicatat oleh negara untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan apabila terjadi sesuatu hal sepanjang perjalanan pernikahan meskipun dari sekian banyak kasus perceraian kita bisa menilai sendiri seberapa banyak peran negara dalam membantu permasalahan yang terjadi.
Sebaik-baiknya pernikahan adalah yang dicatatkan pada negara dihadapan petugas KUA

 

Jadi Apa Perbedaan Nikah Mut'ah Dengan Nikah Siri ?


Dari penjelasan diatas, jelas terlihat perbedaan antara nikah siri dengan nikah dengan nikah mut'ah adalah pada masalah ada atau tidak ada nya "jangka waktu" saat Ijab Qobul. Pada nikah mut'ah atau kawin kontrak disebutkan masa berlaku pernikahan sementara pada pernikahan siri atau pernikahan resmi KUA "tidak ada" batasan waktu berakhirnya pernikahan. Sebuah pernikahan berakhir jika suami mengucapkan kata Talaq, salah satu nya meninggal dunia, atau terpenuhinya unsur pada Shigot Taqliq ("jika saya menyakiti badan istri saya ..... atau ...") yang dibaca suami setelah ijab qobul.  


Demikian, semoga hal ini bisa bermanfaat. Silahkan baca disini untuk jasa penghulu nikah siri.